Tugas 2 (Artikel 6)

Standar

Perilaku atau Kepribadian (Carl Rogers)

Carl Rogers dengan aliran konseling humanistik memiliki pandangan dasar tentang manusia, yaitu bahwa pada dasarnya manusia itu adalah makhluk yang optimis, penuh harapan, aktif, bertanggung jawab, memiliki potensi kreatif, bebas (tidak terikat oleh belenggu masa lalu), berorientasi ke masa yang akan datang dan selalu berusaha untuk melakukan self fullfillment (memenuhi kebutuhan dirinya sendiri untuk bisa beraktualisasi diri).
Dengan pandangan dasarnya tentang manusia tersebut, Rogers membagi teori kepribadiannya ke dalam 4 bagian yang paling utama, yaitu :
  1. Teori Diri (Self-Theory)
      Rogers dalam hal ini percaya bahwa pada hakikatnya manusia berada dalam sebuah dunia yang tidak pernah berubah di mana sesungguhnya, dialah yang menjadi pusat dari kesemuanya itu. Rogers percaya bahwa diri(self) bukan merupakan sebuah struktur yang tetap, tetapi merupakan struktur yang berada dalam suatu proses, memiliki kemampuan baik untuk keadaan yang stabil maupun perubahan. Diri (self) sendiri terbagi ke dalam alam sadar(conscious) dan alam tak sadar (unconscious).
      Rogers juga menyebut nama organisme,untuk semua pengalaman-pengalaman psikologis. Secara lebih jelasnya, organisme adalah medan fenomenal yang hanya dapat diketahui oleh individu itu sendiri. Pengalaman fenomenal itu sendiri terbagi menjadi dua, yaitu pengalaman sadar (dilambangkan) dan pengalaman tak sadar (tidak dilambangkan).
  1. Kejadian dan Pengalaman yang bernilai
      Person-centered therapy didasarkan pada kepercayaan bahwa diri memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah yang dihadapinya sendirian. Person-centered therapy mengutamakan pemahaman atas pengalaman-pengalaman pribadi yang dialami oleh individu. Merasakan pengalaman (memahami) merupakan cara yang akurat untuk memahami diri sendiri dan lingkungannya.
  1. Potensi untuk tumbuh dan belajar
      Rogers percaya bahwa kecenderungan aktualisasi dan perkembangan diri melekat sangat kuat dalam diri setiap manusia. Pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan untuk tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya sesuai dengan potensi-potensi yang dimilikinya. Hanya saja, yang terkadang menjadi masalah adalah orang-orang tersebut kurang paham mengenai kelebihan, kekurangan, dan potensi yang dimilikinya itu.
  1. Kondisi-kondisi yang berharga
      Pada dasarnya, manusia memiliki kecenderungan untuk mengarahkan dan mempertinggi dirinya sendiri. Sehingga manusia merasa memerlukan dua hal utama, yaitu penghargaan positif dan penghargaan diri.
      Secara tidak langsung dapat disimpulkan bahwa person-centered therapy memandang individu itu ada dari kebermaknaannya pada diri sendiri, orang lain, serta lingkungan sekitarnya. Individu bisa dikatakan ada karena sumbangan yang diberikannya pada baik diri sendiri, orang lain, serta lingkungannya.

Tujuan Terapi

Tujuan utama pendekatan person-centered therapy adalah untuk menciptakan iklim yang kondusif sebagai usaha untuk membantu konseli menjadi pribadi yang utuh, yaitu pribadi yang mampu memahami kekurangan dan kelebihan dirinya dirinya. Tidak ditetapkan tujuan khusus dalam pemdekatan person-centered, sebab konselor digambarkan memiliki kepercayaan penuh pada konseli untuk menentukan tujuan-tujuan yang ingin dicapainya dari dirinya sendiri.
      Secara lebih terperinci, tujuan konseling person-centered adalah :
1)      Membantu konseli untuk menyadari kenyataan yang terjadi terhadap dirinya
2)      Membantu konseli untuk membuka diri terhadap pengalaman-pengalaman baru
3)      Menumbuhkan kepercayaan diri konseli
4)      Membantu konseli membuat keputusan sendiri
5)      Membantu konseli menyadari bahwa manusia tumbuh dalam suatu proses

Peran Terapis

Dalam konseling menggunakan metode person-centered therapy, yang harus ditunjukkan konselor pada konseli adalah tiga hal yang paling utama, yaitu :
  1. Unconditional Positive Regard(Penerimaan Positif tanpa Syarat/Acceptance)
Unconditional positive regard adalah suatu keadaan yang sama dengan acceptance, menghormati serta menghargai. Meliputi penegasan pada nilai-nilai konseli sebagai bagian dari manusia atau organisme yang berpikir, merasa, percaya dan makhluk yang menyeluruh, diterima oleh konselor dalam kondisi apapun tanpa syarat tertentu. Person-centered therapy percaya jika konselor mampu menerima konseli apa adanya, maka konseli akan mulai berpikir mengenai siapa dirinya sebenarnya, dan apa yang sebenarnya dia inginkan. Dengan menunjukkan sikap acceptance seperti apapun konselinya, maka konselor mengajak konseli untuk mulai menerima dirinya sendiri.
  1. Empathy (Empati)
Empati adalah suatu keadaan di mana konselor berusaha untuk ikut merasakan apa yang konseli rasakan, ikut masuk ke dalam dunia konseli, ikut melihat dan mengalami apa yang dilihat dan dialami oleh konseli tetapi tidak ikut hanyut dalam dunia atau kerangka berpikir konseli tersebut.
Macam-macam empati :
  1. Empati intelektual, termasuk melihat dunia dari perspektif konseli dalam lingkup intelektual
  2. Empati emosi, terjadi ketika secara alamiah atau spontan, konselor mulai merasakan emosi dalam merespons dunia konseli dalam lingkup emosi
  3. Empati imajinasi, termasuk bertanya pada diri sendiri “Bagaimana jika saya berada pada posisi konseli saya?”
  4. Congruence (Kongruen/ Asli/ Genuine)
Kongruen didefinisikan sebagai ke otentikan atau keaslian dari diri konselor. Kongruen yang dilakukan oleh konselor adalah benar-benar suatu kenyataan, keterbukaan, dan kejujuran. Kongruen diartikan pula bahwa konselor mampu mengekspresikan kedua hal baik positif maupun negatif pada konseling.

Teknik Terapi

Teknik yang dianjurkan dalam person-centered therapy adalah syarat utama yang harus dimiliki oleh konselor, yaitu :
  1. Mengalami dan Memperlihatkan Kongruen
Kesesuaian, kecocokan, harmoni (kongruen) konselor menjadi bagian yang diimplikasikan pada konseling dan pada konselor (sommers Flanagan – Sommers Flanagan 2003).
Kongruen di sini berarti bahwa konselor membuka dirinya pada pengalaman yang bersifat emosi yang terjadi pada hubungan konseling. Kehangatan dan kesabaran saat konseli tertekan, kemarahan saat konseli menyerang dengan paksaan-paksaan yang kuat, kebosanan saat konseli mengomel, merupakan hal-hal yang menggambarkan konselor bertindak apa adanya.
Semakin baik konselor melakukan sikap kongruen, semakin besar pula kemungkinan konseling itu akan mencapai tujuannya.
  1. Mengalami dan Menunjukkan Penerimaan Positif tanpa Syarat
Semua orang membutuhkan penerimaan positif tanpa syarat dari orang lain. Banyak konselor terkadang mendapat masalah jika secara langsung menunjukkan penerimaan positif tanpa syarat kepada konseli, karena dua alasan.
Pertama, ekspresi penerimaan positif tanpa syarat yang berlebihan dapat membuat konseli senang berlebihan. Kedua, perkatan “Saya peduli denganmu” atau “Saya tidak mau menghakimimu”, mejadi pandangan yang terkesan palsu dan tidak realistik, khususnya jika konselor banyak membuang waktu dengan konseli.
Untuk itu, penerimaan/ penghargaan positif tanpa syarat harus dilakukan oleh konselor diimbangi dengan sikap kongruen, agar tidak terkesan mengada-ada atau dibuat-buat.
  1. Mengalami dan Menunjukkan Rasa Empati
  • Membuat konseli merasa nyaman atau “at home” dalam persepsi dunia privasinya
  • Peka terhadap pengertian emosi konseli dari satu moment ke moment yang lain
  • Menempatkan kehidupan orang lain sebagai masalah yang serius
  • Peka terhadap kedalaman makna, tetapi tidak larut dalam situasi konseling sehingga konselor tidak kehilangan kesadaran diri
Sumber:
http://beaprofessionalcounselor.blogspot.com/2011/02/person-centered-therapy-terapi-berpusat.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s