Tugas 2 (Artikel 4)

Standar

Teori Psikoanalisis

Kesadaran

Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran, yaknisadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak sadar (unconscious).Baru pada tahun 1923 Freud mengenalkan tiga model struktural yang lain,yakni id, ego, dan superego. Struktur baru ini tidak mengganti struktur lama, tetapi melengkapi atau menyempurnakan gambaran mental terutamadalam fungsi atau tujuannya. 
1.Sadar (Conscious)
Tingkat kesadaran yang berisi semua hal yang kita cermati pada saattertentu. Menurut Freud, hanya sebagian kecil saja dari kehidupanmental yang masuk ke kesadaran.2.
 
2. Prasadar (pereconscious)
Disebut juga ingatan siap (available memory), yakni tingkat kesadaranyang menjadi jembatan antara sadar dan taksadar. Isi preconscious berasal dari conscious dan dari unconscious. Materi taksadar yangsudah berada di daerah prasadar itu bisa muncul kesadaran dalam bentuk simbolik, seperti mimpi, lamunan, salah ucap, dan mekanisme pertahanan diri.3.
 
3. Taksadar (Unconscious)
Bagian yang paling dalam dari struktur kesadaran dan menurut Freudmerupakan bagian terpenting dari jiwa manusia. Ketidaksadaran berisiinsting, impuls, dan drives yang dibawa dari lahir, dan pengalaman- pengalaman traumatik (biasanya pada masa anak-anak) yang ditekanoleh kesadaran dipindah ke daerah taksadar

Sturkur Kepribadian 

a. Id atau Das Es (Aspek Biologis)

Id adalah sistem kepribadian yang asli, dibawa sejak lahir. Dari Id inikemudian akan muncul Ego dan Superego. Saat dilahirkan, Id berisisemua aspek psikologik yang diturunkan seperti insting, impuls, dandrives. Id berada dan beroperasi dalam daerah Unconscious,. Freud juga menyebut Id dengan realitas psikis yang sebenar-benarnya ( TheTrue Physic Reality).Id beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure principle)yaitu: berusaha memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit.Pleasure principle diproses dengan dua cara, tindak refleks (reflexactions) dan proses primer (primary process). Tindak refleks adalahreaksi otomatis yang dibawa sejak lahir seperti mengejapkan mata-mata  dipakai untuk menangani pemuasan rangsang sederhana dan biasanyasegera dapat dilakukan. Proses primer adalah reaksimembayangkan/menghayal sesuatu yang dapat mengurangi ataumenghilangkan tegangan-dipakai untuk menangani stimuluskompleks, seperti bayi yang lapar membayangkan makanan atau puting ibunya. Sistem lain yang menghubungkan Id dengan duniaobjektif adalah Das Ich (ego).

b. Ego atau Das Ich (aspek rasional)
Ego berkembang dari Id agar orang mampu menangani realita:sehingga Ego beroperasi mengikuti prinsip realita (Reality Principle).Prinsip itu dikerjakan melalui proses sekunder (Secondary Process),yakni berfikir realistik menyusun rencana dan menguji apakah rencanaitu menghasilkan objek yang dimaksud. Proses itu disebut uji realita(Reality Testing). Ego sebagian besar berada di kesadaran dansebagian kecil beroperasi di daerah prasadar dan taksadar.Ego adalah eksekutif (pelaksana) dari kepribadian yang memiliki duatugas utama:
1. Memilih stimuli mana yang hendak direspon dan atau instingmana yang akan dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan.
2.Menentukan kapan dan bagaimana kebutuhan itu dipuaskan sesuaidengan tersedianya peluang yang resikonya minimal.Dalam menjalankan fungsinya seringkali Das Ich harusmempersatukan pertentangan-pertentangan antara Das Es dan DasUeber Ich dan dunia luar.
c.  Superego atau Das Ueber Ich (aspek sosial atau moral)Superego adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang beroperasi memakai prinsip idealistik (idealistic principle) sebagailawan dari prinsip kepuasan Id dan prinsip realistik dari Ego.Prinsip idealistik mempunyai dua sub prinsip, yakni conscience danego-ideal. Apapun tingkah laku yang dilarang, dianggap salah, dan dihukum oleh orang tua, akan diterima anak menjadi suara hati(conscience), yang berisi apa saja yang tidak boleh dilakukan. Apapunyang disetujui, dihadiahi dan dipuji orang tua akan diterima menjadistandar kesempurnaan (Ego-Ideal), yang berisi apa saja yangseharusnya dilakukan. Proses mengembangkan konsensia dan ego-ideal, yang berarti menerima standar salah dan benar itu disebutintroyeksi (introjection). Sesudah terjadi introyeksi, kontrol pribadiakan mengganti kontrol orang tua. 
Tiga fungsi Superego:
1.Mendorong Ego menggantikan tujuan-tujuan realistik dengantujuan-tujuan moralistik.
2.Merintangi impuls Id, terutama impuls seksual dan agresif yang bertentangan denganstandar nilai masyarakat.
3.Mengejar kesempurnaan.

Struktur Kepribadian

a)      Represi
Represi adalah mekanisme yang dilakukan oleh ego untuk meredakan kecemasan dengan jalan menekan dorongan-dorongan atau keinginan-keinginan yang menjadi penyebab kecemasan tersebut kedalam tak sadar. Dengan kata lain mekanisme untuk meredakan kecemasan dengan cara menekan tekanan kealam tidak sadar (tidak mengakui adanya doeogan itu).
b)      Sublimasi
Sublimasi adalah mekanisme pertahanan ego yang ditujukan untuk mencegah atau meredakan kecemasan dengan cara mengubah dan menyesuaikan dorongan primitif id yang menjadi penyebab kecemasan kedalam bentuk (tingkah laku) manusia yang bisa diterima dan dihargai masyarakat.
c)      Proyeksi
Proyeksi adalah pengalihan dorongan, sikap atau tingkah laku yang menimbulkan kecemasan kepada orang lain.
d)     Displacemen
Displacement adalah pengungkapan dorongan yang menimbulkan kecemasan pada objek atau individu yang kurang berbahaya atau kurang mengancam dibanding dengan objek atau individu semula
e)      Reaksi formasi
Reaksi formasi adalah reaksi dimana kadang-kadang ego individu bisa mengendalikan dorongan-dorongan primitive agar tidak muncul sambil secara sadar mengungkapkan tingkah laku sebaliknya
f)       Regrasi
Regresi adalah suatu mekanisme dimana individu untuk menghindarkan diri dari kenyataan yang mengancam, kembali kepada taraf perkembangan yang lebih rendah serta bertingkah laku seperti ketika dia berada dalam taraf yang lebih rendah itu.
g)      Rasionalisasi
Rasionalisasi menunjuk kepada upaya individu menyelewengkan atau memutarbalikkan kenyataan yang mengancam ego, melalui alasan tertentu yang seakan-akan masuk akal

Perkembangan Psikoseksual

Teori psikoanalisa mengenai perkembangan kepribadian berlandaskan dua premis, pertama, premis bahwa kepribadian individu dibentuk oleh berbagai jenis pengalaman masa kanak-kanak awal. Kedua, energy seksual (libido) ada sejak lahir dan kemudian berkembang melalui serangkaian tahapan psikoseksual yang bersumber pada proses-proses naluriah organism.
Freud menyatakan bahwa pada manusia terdapat tiga fase atau tahapan perkembangan psikoseksual yang kesemuanya menentukan bagi pembentukan kepribadian. Tiga fase tersebut adalah :
1. Fase Oral
Fase oral adalah fase pertama yang berlangsung pada perkembangan kehidupan individu. pada fase ini, daerah erogen yang paling penting dan paling peka adalah mulut.yakni berkaitan dengan pemuasan kebutuhan dasar akan makanan atau minuman. Stimulasi atau perangsangan atas mulut merupakan tingkah laku yang menimbulkan kesenangan atau kepuasan.
2. Fase Anal
Fase anal dimulai dari tahun kedua sampai tahun ketiga kehidupan. Pada fase ini energy liibidal dialihkan dari mulut ke daerah dubur,serta kesenangan dan kepuasan diperoleh dengan tindakan mempermainkan atau menahan kotoran (faeces). Pada fase ini pula, seorang anak diperkenalkan kepada aturan-aturan kebersihan yang disebut toilet training.
 3. Fase Falik
Fase falik ini berlangsung pada tahun keempat atau kelima, yakni suatu fase ketika energi libido sasarannya dialihkan dari daerah dubur kedaerah alat kelamin. Pada fase ini anak mulai tertarik pada alat kelaminnya sendiri dan mempermainkannya dengan maksud untuk memperoleh kepuasan.
4. Fase laten (latency stage)
Fase ini terjadi kira-kira usia 6 sampai pubertasPada fase ini dorongan seks cenderung bersifat laten atau tertekan.
5. Fase genital (genital stage):
Fase ini terjadi sejak individu memasuki pubertas dan selanjutnya. Pada masa ini individu telah mengalami kematangan pada organ reproduksi.
Tujuan Pendekatan
            Tujuan terapi psikoanalitik adalah adalah membentuk kembali struktur karakter individual dengan jalan membuat kesadaran yang tak disadari didalam diri klien. Proses terapeutik di fokuskan pada upaya mengalami   kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. Pengalaman-pengalaman masa lampau di rekontruksi, dibahas, dianalisis, dan ditafsirkan dengan sasaran merekontruksi kepribadian. Terapi psikoanalitik menekankan dimensi afektif dari upaya menjadikan ketaksadaran diketahui. Pemahaman dan pengalaman intelektual memiliki arti penting. Tetapi perasaan-perasaan dan ingatan-ingatan yang berkaitan dengan pemahaman diri lebih penting lagi.
Proses Terapi
            Dengan analis dikonseptualkan dalam proses transferensi yang menjadi inti pendekatan psikoanalitik, tranpernsi mendorong klien untuk mengalamatkan pada analis “urusan yang tak selesai ”yang terdapat dalam hubungan klien dimasa lampau dengan orang yang berpengaruh. proses pemberian treatman mencakup merekontruksi klien dan menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman masa lampaunya, setelah terapi berjlan dengan baik, perasaan-perasaan dan konflik masa anak-anak klien mulai muncul kepermukaan dari ketaksadaran. Jika terapi diinginkan memiliki pengaruh menyembuhkan, maka hubungan transferensi harus digarap. Proses transferensi melibatkan eksplorasi oleh klien atas kesejajaran- kesejajaran antara pengalaman masa lampau dan pengalaman masa kini. Dimensi utama dari proses penggarapan itu adalah hubungan transferensi, yang membutuhkan waktu untuk membangunnya serta memerlukan tambahan waktu untuk memahami dan melarutkannya, maka penggarapannya memerlukan jangka waktu yang panjang bagi keseluruhan proses teurapeutik. Sebagai hasil hubungan terapeutik, khususnya penggarapan situasi transferensi, klien memperolah pemahaman terhadap psikodinamika tak sadarnya, kesadaran dan pemahaman atas bahan yang direpresi merupakan landasan bagi proses pertumbuhan anlitik. klien mampu memahami asosiasi antara pengalaman – pengalaman masa lampaunya dengan kehidupan sekarang. Pendekatan psikoanalitik berasumsi bahwa kesadaran diri ini bisa secara otomatis mengarah pada perubahan kondisi klien.
  1. Asosiasi Bebas
Teknik utama terapi psikoanalitik adalah asosiasi bebas. Disini klien diminta melaporkan segera tanpa ada yang disembunyikan, klien terhanyut bersama segala perasaan dan pikirannya. Klien diminta untuk mengatakan segala sesuatu yang muncul dalam kesadarannya, seperti pikiran, harapan, dan lain-lain, walaupun kelihatannya hal-hal tersebut tidak penting, tidak logis, menyakitkan, ataupun menggelikan. Freud memikirkan bahwa asosiasi bebas ini ditentukan oleh suatu sebab, bukan hal yang acak. Tugas analislah untuk melacak asosiasi ini sampai kesumbernya dan mengidentifikasi suatu pola sebenarnya yang tadinya hanya terlihat sebagai rangkaian kata yang tidak pasti. Terlepasnya emosi yang kuat, yang selama ini ditekan pada situasi terapeutik inipun kemudian disebut sebagai katarsis.
Cara yang khas ialah klien berbaring diatas balai-balai sementara analisis duduk dibelakangnya sehingga tidak mengalihkan perhatian klien pada saat asosiasi-asosiasinya mengalir bebas. Asosiasi bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau, yang dikenal dengan sebutan katarsis. Hal ini dilakukan guna membantu klien dalam memperoleh pemahaman dan evaluasi diri yang lebih objektif, analis menafsirkan makna-makna utama dari asosiasi bebas ini.
  1. Penafsiran
Penafsiran adalah suatu prosedur dasar dalam meganalisis asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi-resistensi dan tranferensi-transferensi. Prosedurnnya terdiri atas tindakan-tindakan analisis yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien makna-makna tingkah laku yang dimanifestasikan oleh mimpi-mimpi, asosiasi bebas, resistensi-resistensi, dan oleh hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi penafsiran adalah mendorong ego untuk mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat penyingkapan bahan tak sadar lebih lanjut. Penafsiran-penafsiran analisis menyebabkan pemahaman dan tidak terhalangi bahan tak sadar pada pihak klien.
  1. Analisis Mimpi
Analisis mimpi adalah sebuah prosedur yang penting untuk menyingkap bahan yang tak disadari dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Freud memandang mimpi-mimpi sebagai “jalan mengistimewa menuju ketaksadaran”, sebab melalui mimpi-mimpi itu hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan-ketakutan yang tak disadari, diungkapkan. Analisa terhadap mimpi ini biasanya dilandasi oleh konsep psikoseksual, serta termuat isu gender. Contohnya adalah mimpi mengenai sebuah pohon dapat diinterpretasikan sebagai keinginan untuk mengekspresikan dorongan seksual apabila diimipikan oleh laki-laki, atau representasi dari keinginan untuk memiliki superioritas laki-laki bila dimimpikan oleh perempuan. Dalam hal ini, pohon dipandang sebagai representasi dari alat kelamin laki-laki.
  1. Analisis dan penafsiran resistensi
Resistensi merupakan sebuah konsep yang fundamental dalam praktek psikoanalitik adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tak disadari. Sebagai pertahanan terhadap kecemasan, resistensi bekerja secara khas dalam terapi psikoanalitik dengan menghambat klien dan analis dalam melaksanakan usaha bersama untuk memperoleh pemahaman atas dinamika-dinamika ketaksadaran klien.
  1. Analisis dan penafsiran transferensi
Sama hal nya dengan resistensi, transferensi merupakan inti dari terapi psikoanalitik. Analisis transferensi yang utama dalam psikoanalisis, sebab mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi. Transference adalah saat pasien mengembangkan reaksi emosional keterapis. Hal ini bisa saja dikarenakan pasien mengidentifikasi terapis sebagai seseorang dimasa lalunya, misalnya orang tua atau kekasih. Disebut positive transference apabila perasaan itu adalah perasaan saying atau kekaguman, serta negative transference apabila perasaan ini mengandung permusuhan dan kecemburuan.

Sumber:

http://rizki-wijayanti-fib13.web.unair.ac.id/artikel_detail-98434-Etika%20Kepribadian-Teori%20Kepribadian%20Menurut%20Sigmund%20Freud.html

http://www.academia.edu/6492375/PSIKOANALISIS_KLASIK_Sigmund_Freud

https://namiho.wordpress.com/2013/03/17/terapi-dengan-pendekatan-psikoanalitik/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s